Politik Uang Diprediksi Jadi Akar Masalah Pilkada Serentak 2020

Politik Uang Diprediksi Jadi Akar Masalah Pilkada Serentak 2020

Politik Uang Diprediksi Jadi Akar Masalah Pilkada Serentak 2020

Politik Uang Diprediksi Jadi Akar Masalah Pilkada Serentak 2020 – Anggota Bawaslu RI Ratna Dewi Pettalolo mengatakan, politik uang menjadi akar masalah dalam penyelenggaraan Pilkada Serentak 2020, di tengah pandemik COVID-19.

Padahal sejatinya, aturan dalam Undang-undang Nomor 10 Tahun 2016 mengenai politik uang menyebut, pemberi dan penerima bisa dikenakan sanksi pidana.

1. Bawaslu khawatir pendemik COVID-19 membuat politik uang semakin tumbuh subur

Di sisi lain, banyak masyarakat yang ekonominya melemah akibat pandemik ini, sehingga ia mengkhawatirkan partisipasi masyarakat dalam Pilkada Serentak 2020 akan berkurang.

“Ini tantangan berat bagi kita di dalam Pilkada 2020, apakah politik uang ini akan semakin subur, atau politik uang ini bisa berkurang, sangat tergantung pada bagaimana masyarakat memaknai Pilkada di tengah pandemik COVID-19,” kata Dewi melalui keterangan tertulisnya

2. Bawaslu minta pelaku politik uang dijerat sanksi yang lebih berat

Dewi menjelaskan, politik uang sangat berpotensi merusak kemurnian pelaksanaan hak pilih. Pelaku politik uang harus dijerat sanksi yang lebih berat agar menimbulkan efek jera.

“Memang salah satu politik hukum pidana kita di Pilkada ini ingin memberikan efek jera terhadap pelaku politik uang makanya pengaturan subjek, penghilangan pengaturan di setiap tahapan dan juga sanksi yang berat diharapkan bisa memberikan efek jera pada Pilkada 2020,” kata Koordinator Divisi Penindakan Bawaslu tersebut.

3. Masyarakat diminta waspada terkait politik uang saat pelaksanaan Pilkada Serentak 2020

Oleh sebab itu ia mengharapkan peran serta masyarakat dan akademis dalam meningkatkan pemahaman dan pengetahuan masyarakat tentang bahaya politik uang.

“Dalam Pilkada, penerima uang atau materi lainnya juga bisa dijerat sanksi pidana, sementara dalam Pemilu hanya pemberi yang bisa dijerat. Sehingga diharapkan akan memberikan kewaspadaan kepada masyarakat kita tidak menerima politik uang,” tuturnya

4. Terapkan Protokol Kesehatan

Selain pencegahan kerawanan pilkada, penerapan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 dan profesionalitas penyelenggara maupun pengawas pemilu juga menjadi perhatian Bawaslu RI. Sehingga pilkada serentak tidak menjadi cluster penularan virus Corona.

“Catatan penting harus kerja profesional dan menerapkan protokol kesehatan. Protokol kesehatan ini yang sedang kita cek kesiapannya agar tidak jadi masalah, agar tidak terjadi cluster baru di penyelenggara pemilu,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *