Mundur dari KPK, Febri Diansyah Akan Kerja di BUMN atau Masuk Politik?

Mundur dari KPK, Febri Diansyah Akan Kerja di BUMN atau Masuk Politik?

Mundur dari KPK, Febri Diansyah Akan Kerja di BUMN atau Masuk Politik? – Mantan Juru bicara KPK, Febri Diansyah, mengatakan bahwa hingga saat ini ia belum melamar ke instansi mana pun usai memutuskan mundur dari lembaga antirasuah. Febri keketahui mengajukan surat pengunduran bekerja, sejak Jumat 18 September 2020.

“Saya tidak terpikir saat ini untuk masuk ke partai politik, untuk bekerja pada instansi pemerintah ke BUMN atau sejenisnya. Jadi kami berencana membangun sesuatu yang barulah ke luar. Mungkin mulai dari nol tidak apa-apa, yang penting lebih independen dan tetap bisa mengawal KPK dari luar,” ucap Febri dalam wawancara khusus (wansus), Rabu 30 September 2020.

1. Revisi UU KPK jadi salah satu alasan Febri mundur dari KPK

Febri mengatakan, adanya revisi Undang-Undang (UU) KPK yang berlaku sejak Oktober 2019 lalu, menjadi salah satu alasan mengapa ia mundur dari KPK.

Melansirkan dari https://hansens-hikes.com/ “Memang sejak tahun lalu itulah, saya dan beberapa orang teman itu mulai berdiskusi dan bahkan ada yang mengatakan, apakah kita masih bertahan pada KPK setelah revisi UU KPK tersebut?” kata Febri.

Febri mengatakan, selama ia berdiskusi dengan teman-temannya yang juga merupakan pegawai KPK, sudah ada yang lebih dulu memilih mengundurkandiri. Namun, Febri dan beberapa teman lainnya memilih tetap bertahan.

“Lewat 11 bulan, saya pikir kontribusi saya untuk pemberantasan korupsi mungkin bisa lebih signifikan dan besar kalau saya berada pada luar KPK. Karena ini memang pertanyaan dasarnya melebihi seluruh pertanyaan yang ada. Pertanyaan reflektif saya yaitu, seberapa signifikan Anda atau kita atau saya, bisa berkontribusi memberikan manfaat untuk pemberantasan korupsi?” ungkap Febri.

2. Selalu mengajukan pertanyaan kediri sendiri agar tak terjebak dalam zona nyaman

Febri melanjutkan, pertanyaan-pertanyaan reflektif itu selalu ia tanyakan kediri sendiri. Pertanyaan itu mengajukan, agar ia dan beberapa pegawai KPK lainnya tidak terjebak dalam zona nyaman.

“Kalau hanya bicara soal gaji dalam tanda kutip kenyamanan, mungkin sangat nyaman untuk bertahan saja dan ya sudah terima saja kondisi yang baru ini,” ucap Febri.

“Tapi saya pikir tidak. Karena, bekerja itu bukan hanya sekadar mencari penghasilan, bekerja itu bukan hanya soal rutinitas yang terulang-ulang terus, tapi bekerja itu artinya bisa bermanfaat bagi orang banyak,” sambungnya.

3. Febri akan tetap menjaga KPK dari luar

Febri berujar, keputusannya mundur dari KPK tersebabkan faktor internal dan eksternal. Namun, ia enggan menjelaskan lebih spesifik mengenai faktor internal tersebut.

“Untuk faktor internal saya pikir tidak usah terbahaslah. Karena itu cenderung ke hal-hal yang sifatnya pribadi yang tidak perlu terbawa ke ruang publik, tapi faktor eksternal ini yang paling penting,” ujarnya.

Untuk faktor eksternal, Febri mencontohkannya dari segi kelembagaan. Antaranya kondisi politik dan hukum, serta jawaban dari pertanyaan reflektif yang sudah terdiskusikan bersama sejumlah temannya.

Kemudian, status pegawai KPK yang hingga saat ini masih belum jelas, menimbulkan kekhawatiran yang lebih.

“Meskipun bagi saya sendiri, pertimbangan lebih utama sebenarnya adalah pertimbangan kondisi dan situasi yang sudah berubah tersebut, dan saya merasakan ruang kontribusi saya mungkin akan lebih besar kalau saya bisa berada ke luar KPK,” tuturnya.

“Karena itu, waktu bertemu pimpinan saya sampaikan juga bahwa, ya meskipun saya keluar, tetap saya akan jaga KPK dari luar,” katanya lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *