Ketersediaan Vaksin Pengaruhi Pemulihan Ekonomi

Ketersediaan Vaksin Pengaruhi Pemulihan Ekonomi

Ketersediaan Vaksin Pengaruhi Pemulihan Ekonomi

Ketersediaan Vaksin Pengaruhi Pemulihan Ekonomi, – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menekankan bahwa pemulihan kegiatan ekonomi masyarakat akan sangat bergantung pada ketersediaan vaksin Covid-19. Sri Mulyani menyatakan ketika vaksin itu telah ditemukan. Maka tugas pemerintah berikutnya adalah mendistribusikan dan mengelola penanganan dan penyembuhan secara cepat agar pemulihan dapat terjadi.

“Apakah vaksin akan segera ditemukan dan bisa didistribusikan ini memiliki implikasi luar luar biasa terhadap kegiatan seluruh masyarakat termasuk aspek ekonomi,” katanya dalam diskusi daring di Jakarta, Kamis.

Ekonom Chatib Basri menyebut ketersediaan vaksin berpengaruh terhadap pemulihan ekonomi. Sebelum vaksin selesai, menurut Chatib, protokol kesehatan harus tetap dijalankan. Artinya, ekonomi harus beroperasi di bawah 100 persen.

“Dengan kondisi ini, pemulihan akan berbentuk U, bukan V. Untuk kuartal III tahun ini mungkin masih terjadi perlambatan,” kata Chatib melalui akun Twitter-nya, @ChatibBasri.

Sri Mulyani menuturkan pandemi Covid-19 merupakan bencana kemanusiaan yang mempengaruhi seluruh faktor paling dalam di kehidupan masyarakat mulai dari interaksi secara sosial, politik, kultural, serta ekonomi. Hal itu menyebabkan perekonomian di seluruh negara mengalami tekanan dan banyak yang terkontraksi termasuk Indonesia yakni pada kuartal II tahun ini minus 5,32 persen.

Butuh waktu lama untuk memvaksin masyarakat

Chatib lantas membuat hitungan sederhana. Misalnya, vaksin tersedia Januari 2021 dan hanya 25 juta orang tua yang diprioritaskan mendapatkan vaksin lebih dahulu. Dalam satu tahun ada 365 hari, maka setiap hari harus ada 68 ribu orang yang divaksin selama setahun.

“Mampukah kita memvaksin 68 ribu orang per hari? Saya tidak tahu. Dan itu membutuhkan waktu 1 tahun. Padahal, kabarnya dibutuhkan 2 kali vaksin,” kata dia.

Perusahaan bisa bertahan, namun tak dapat untung

Jika ekonomi hanya beroperasi 50 persen, lanjutnya, untuk banyak sektor break even point tidak tercapai. Menurut dia, perusahaan bisa tetap bertahan selama masih bisa membayar biaya variabel seperti gaji, namun tidak untung.

“Perusahaan bisa jadi zoombie companies. Karena itu tak ada insentif untuk ekspansi dan meningkatkan investasi. Ekonomi akan stuck atau pemulihan lambat,” ujarnya.

Skala ekonomis tak tercapai karena berbagai faktor

Bersama peneliti ekonomi Namira, Chatib mencoba melakukan eksperimen awal dengan data Google dan http://Humdata.org. Data Google Mobility menunjukkan setelah re-opening aktivitas, mobilitas naik tajam, lalu flat dan melambat. Data menunjukkan pada Juni-Agustus terjadi perlambatan. Hal itu juga konsisten dengan hasil survei Saiful Mujani bahwa persepsi ekonomi kembali menurun.

“Ada beberapa kemungkinan penjelasan. Di antaranya daya beli yang lemah, perilaku kelas menengah atas yang berhati-hati karena kesehatan, perubahan perilaku seperti belanja, dan protokol kesehatan membuat ekonomi tak bisa beroperasi 100 persen. Akibatnya, skala ekonomis tak tercapai,” jelas Chatib.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *