Kenapa RS Pulau Galang Tak Dioptimalkan?

Kenapa RS Pulau Galang Tak Dioptimalkan?

Kenapa RS Pulau Galang Tak Dioptimalkan?

Kenapa RS Pulau Galang Tak Dioptimalkan? – Meningkatnya kasus positif COVID-19 membuat sejumlah rumah sakit (RS) di wilayah episentrum virus corona di Indonesia mulai kewalahan. Bahkan, kapasitas tempat tidur di ruang Intensive Care Unit (ICU) dan ruang isolasi terus berkurang.

Namun, di tengah penuhnya rumah sakit rujukan COVID-19 terdapat rumah sakit darurat yang justru masih relatif sepi penghuninya yakni Rumah Sakit Darurat COVID-19 di Pulau Galang, Kota Batam.

Dilansir dari laman http://utowndc.com, Rumah sakit yang menelan anggaran Rp400 milliar ini digadang-gadang menjadi rumah sakit andalan saat wabah COVID-19 melanda Indonesia, namun ironisnya, sejak dibuka Senin April sampai saat ini, RS darurat ini hanya dihuni 50 persen dari kapasitas dari daya tampung 1.000 pasien.

Berdasarkan data Satgas COVID-19 pada Jumat, sampai pukul 08.00 WIB, pasien rawat inap 274 orang, 180 pria dan 94 perempuan. Hingga kini, total ada 2.511 pasien yang keluar dari 2.785 pasien yang terdaftar di rumah sakit itu sejak pertama kali menerima pasien, terhitung mulai April hingga September 2020.

Lalu bagaimana pandangan ahli epidemiologi tentang kondisi RSD Pulau Galang?

1. Pembangunan RSD di Pulau Galang sudah tidak logis sejak awal

Pakar Epidemiologi FKM UI, Pandu Riono, mengungkapkan opininya bahwa pembangunan RSD Pulau Galang sejak awal memang tidak logis, sebab jauh dari wilayah episentrum.

“Keputusan yang paling bodoh. Orang kalau dirawat di rumah sakit milih yang terdekat, ini rumah sakit jauh dari pusat kota, dari Batam, ke sana juga naik apa,” ungkapnya, Jumat.

2. Pemerintah tunjuk rumah sakit khusus jika ada lonjakan

Pandu mengungkapkan, jika ada lonjakan kasus, maka sebaiknya pemerintah menunjuk rumah sakit khusus untuk menangani COVID-19.

“Misalkan RSPI atau RS Pasar Minggu yang tidak melayani pasien non-COVID, sehingga seluruh tempat tidur untuk pasien COVID. Jadi gak usah lah mikir RS Galang,” ujarnya.

3. “Galang itu kan jauh sana di Jawa, lha pandemik-nya di Jawa”

Pandu menyarankan agar tidak memikirkan keberadaan RS Galang sebab dari awal pembangunan juga tidak logis, sehingga meski rumah sakit di Indonesia mulai penuh, RSD Galang tidak dipakai.

“Galang itu gak ada artinya, jauh banget jangan mikirin Galang. Itu di mana Galang itu, kan jauh di sana, lha pandemiknya saja di Jawa,” ujarnya.

4. Pekerja migran yang masuk akan depriksa

Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) I, Laksamana Madya TNI Yudo Margono, pada 3 April 2020 pernah menjelaskan bahwa RSIK Pulau Galang diutamakan untuk para pekerja migran yang dikhawatirkan terpapar virus corona penyebab penyakit COVID-19.

“Dari awal mula, ini dipergunakan untuk pekerja migran dari luar yang jumlahnya banyak. Jika isolasi selesai maka akan kembali ke keluarga,” ucapnya.

Pekerja migran yang masuk Indonesia melalui Kota Batam dan daerah lain di sekitarnya, akan melalui pemeriksaan kesehatan di pelabuhan. Apabila ada yang memiliki gejala dan dicurigai menderita COVID-19, maka dapat langsung dibawa ke Pulau Galang.

5. RSIK Galang untuk pekerja dari luar negeri

Sementara itu, Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito, menerangkan bahwa rumah sakit di Pulau Galang dibangun untuk menangani warga Indonesia yang pulang dari luar negeri yang jumlahnya ratusan ribu bahkan jutaan.

“Itu titik untuk karantina sebelum kembali ke daerahnya, lha kalau konteksnya di Jawa besar, gak mungkin dikirim ke sana, jika BOR (Bed Occupancy Rate) tinggi di 1 atau 2 rumah sakit, maka akan dicari rumah sakit di kawasan itu,” ujarnya

6. Fasilitas rumah sakit menelan anggaran Rp400 milliar

Fasilitas di Pulau Galang merupakan rumah sakit darurat untuk penanganan COVID-19 kedua yang disiapkan oleh pemerintah setelah sebelumnya mengoperasikan RS serupa di Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Presiden Joko “Jokowi” Widodo mengatakan sejumlah fasilitas dipersiapkan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan ke depannya. Namun, ia berharap agar fasilitas yang ada tersebut nantinya tidak digunakan oleh karena meningkatnya pasien terpapar virus corona yang membutuhkan perawatan.

“Sejak awal saya sampaikan, ini dibangun memang untuk menyiapkan itu. Kita harapkan gak dipakai. Nanti kalau sudah semuanya selesai, baru ini akan kita alihkan pada penggunaan yang lain. Rencananya memang untuk rumah sakit penyakit-penyakit menular dan riset,” ujarnya selepas peninjauan pada 1 April 2020.

Untuk diketahui, RS Darurat di Pulau Galang tersebut memiliki tiga zonasi yang memiliki peruntukannya masing-masing.

Zona A merupakan fasilitas penunjang bagi para dokter dan paramedis yang menangani pasien COVID-19 di pulau tersebut. Sementara Zona B diperuntukkan bagi fasilitas medis dan tempat isolasi serta observasi bagi pasien yang dirawat.

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan Zona C yang saat ini difungsikan sebagai area cadangan untuk pengembangan fasilitas-fasilitas lainnya di area rumah sakit yang sekaligus akan dijadikan pusat riset tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *