Eko Nugroho Rilis Buku Monograf soal Dokumentasi Berkarya Selama 10 Tahun

Eko Nugroho Rilis Buku Monograf soal Dokumentasi Berkarya Selama 10 Tahun

Eko Nugroho Rilis Buku Monograf soal Dokumentasi Berkarya Selama 10 Tahun

Eko Nugroho Rilis Buku Monograf soal Dokumentasi Berkarya Selama 10 Tahun – Eko Nugroho menerbitkan buku monograf yang berisikan dokumentasinya berkarya sepanjang 10 tahun. Buku yang diberi judul Contaminated Complaints merupakan edisi spesial dan terbatas yang hanya dicetak sebanyak 300 eksemplar.

Peluncuran buku monograf Eko Nugroho dirilis secara virtual, semalam. Buku monograf kedua yang rilis sepanjang karier perupa asal Yogyakarta itu mencatat berbagai medium Eko Nugroho dalam membangun intervensi dan narasi politik yang lebih kritis lewat karya-karyanya.

Eko Nugroho mengatakan buku monograf menjadi catatan terpenting dalam kariernya

“Ini sangat penting untuk dicatat, karena karya ini akan tersimpan. Mural itu bisa hilang dan tidak akan eksis ketika ada di dinding museum atau galeri. Minimal ini langkah terkecil saya berbagi informasi kepada kekaryaan saya dan seni rupa Indonesia,” ungkap Eko Nugroho.

Ide buku monograf sudah ada sejak tahun 2009 dan baru terealisasi di edisi pertama pada 2011. “Sekarang ini buku monograf kedua yang dicetak eksklusif 300 eksemplar,” ungkap Eko Nugroho.

Lewat buku monograf, Eko Nugroho dan tim merasa hal itu adalah langka pengarsipan yang baik sebagai seorang seniman. Selama ini, dokumentasi dan pengarsipan menjadi kekurangan dari perupa Indonesia.

“Khusus 300 eksemplar ini, saya rasa penting didokumentasikan karena saya tidak akan mengingat semuanya yang saya lakukan. Tapi buku ini akan mencatat apa yang terjadi dan apa yang akan saya lakukan,” katanya.

“Berkarya dengan nilai edukasi dengan seni rupa sampai sekarang yang saya refleksikan ketika berkarya. Di mana pun saya berkarya, saya akan menjadi bagian dari zaman dan seniman mengisi zaman itu,” tutur pria berusia 43 tahun tersebut.

Kurator sekaligus penulis buku, Enin Supriyanto, menuturkan buku monograf adalah salah satu bentuk pengarsipan di dunia seni rupa Indonesia.

“Pengarsipan di Indonesia memang lemah. Untuk dunia seni rupa sekarang beruntung ada IVAA, katalog pameran sudah bisa diakses, kebiasaan galeri buat katalog mulai tahun 2000-an sudah bisa jadi bahan yang berguna untuk peneliti,” ungkap Enin.

Menurutnya, upaya penerbitan seperti sekarang penting untuk didukung publik. “Baik monograf, pengarsipan katalog perlu didukung, supaya kita (seni rupa Indonesia) punya publikasi seperti ini,” tukasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *