Begini Bayangan Kondisi Ekonomi RI

Begini Bayangan Kondisi Ekonomi RI

Begini Bayangan Kondisi Ekonomi RI

Begini Bayangan Kondisi Ekonomi RI, – PEREKONOMIAN RI masih mengalami guncangan dari adanya ketidakpastian di tingkat global. Pelemahan kurs rupiah tetap membayang-bayangi kondisi perekonomian di RI dan dikhawatirkan membawa RI ke krisis seperti kondisi 1997.

Ekonom dari CORE Indonesia Hendri Saparini mengatakan pertumbuhan ekonomi, inflasi dan suku bunga bukan indikator utama dalam pembangunan. Sebab tiga hal tersebut hanyalah targetan angka yang menjadi patokan pemerintah dalam pembangunan.

Kuartal III-2020 menjadi penentu nasib ekonomi Indonesia. Jika pertumbuhan ekonomi kembali negatif maka RI resmi berstatus resesi.

Peneliti Indef Aryo DP Irhamna menilai resesi yang akan dialami Indonesia akan terjadi sangat parah. Sebab dia menilai pemerintah tidak serius menangani wabah COVID-19 yang menjadi akar masalah dan memilih fokus menangani dampaknya yakni ekonomi.

“Resesi di Indonesia akan sangat parah, karena pemerintah tidak fokus dengan serius menangani COVID-19 tapi lebih serius ke ekonomi. Itu terlihat dari nota keuangannya, yang paling besar anggaran untuk sektor yang paling tinggi dukung pariwisata,” ujarnya dalam acara Diskusi Online Indef, Kamis.

Untuk menjawab pertanyaan itu, penting untuk memahami indikator-indikator kunci makroekonomi di suatu negara. Secara makro, terdapat tiga indikator kunci makroekonomi, yaitu (1) pertumbuhan ekonomi, (2) inflasi, dan (3) kesempatan kerja.

Aryo menjabarkan, dalam alokasi program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2021 anggaran untuk kesehatan hanya sekitar Rp 25 triliun. Angka itu turun jauh dari alokasi tahun ini sebesar Rp 87 triliun.

Melansir dari http://www.premier-limos.com/, Sementara untuk sektor pariwisata tahun depan dianggarkan Rp 136,7 triliun. Angka itu naik dari anggaran tahun ini sebesar Rp 106,11 triliun.

“WEF itu sudah membuat list negara yang paling aman untuk pariwisata dan nomor 1 itu Thailand. Tapi pemerintahnya justru mengatakan meski disebut paling aman, tapi kami belum buka untuk turis mancanegara. Kita sebaliknya, Jadi itu ya kita akan sangat parah karena tidak mengatasi akar masalahnya,” tambahnya.

Untuk mengatasi wabah COVID-19 tentu dibutuhkan vaksin. Indonesia tengah mempersiapkan vaksin dari Sinovac. Harganya diperkirakan US$ 30 per orang jika dikalikan kurs saat ini sekitar Rp 400 ribu lebih.

Sementara Ekonomi Senior Faisal Basri menambahkan, jika ingin menyelamatkan ekonomi di tengah pandemi tentu yang harus dilakukan mengatasi akar masalahnya yakni wabah COVID-19. Jika dilakukan sebaliknya, pemulihan ekonomi hanya bersifat semu.

“Jadi kalau mau ekonomi sembuh maka sembuhkanlah manusianya. Jadi jangan kebalikan. Kalau ekonominya dulu, lalu COVID-19 dilupakan, maka ekonominya akan naik sementara, kemudian akan turun lagi,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *