Bank Besar Ini Ternyata Hasil Merger

Bank Besar Ini Ternyata Hasil Merger

Bank Besar Ini Ternyata Hasil Merger

Bank Besar Ini Ternyata Hasil Merger, – Pertumbuhan industri perbankan syariah memiliki prospek besar karena Indonesia memiliki penduduk Muslim terbesar di dunia.

“ Kurang dari 40 persen penduduk Indonesia memiliki akses layanan perbankan. Ini membuat potensi sektor keuangan, konvensional dan syariah, besar untuk tumbuh,” kata Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Fauzi Ichsan, dikutip dari https://christian-mommies.com/, Senin.

Akan tetapi, kata Fauzi, tingkat literasi dan inklusi keuangan di Indonesia masih rendah, terutama tentang keuangan syariah. Wacana merger bank syariah milik BUMN bisa berdampak pada turunnya biaya penggalangan dana bank syariah.

Penurunan biaya pendanaan in memungkinkan bank syariah hasil konsolidasi memiliki ruang gerak lebih luas untuk menyalurkan pembiayaan terjangkau. Merger juga dianggap jadi solusi mengatasi biaya operasional dan capital expenditure yang tinggi. Masalah-masalah ini kerap dialami perbankan syariah.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir bakal merger atau menggabungkan tiga bank syariah BUMN, yakni PT BRI Syariah Tbk, PT BNI Syariah, dan PT Bank Syariah Mandiri.

Jika tak ada aral melintang, penggabungan bank syariah BUMN yang dimulai Oktober 2020 ini, akan rampung pada kuartal 1 tahun 2021 mendatang.

Sebelum 3 bank syariah BUMN ini digabung, ternyata ada beberapa bank besar di Indonesia yang merupakan hasil merger.

PT Bank Mandiri Tbk hasil penggabungan dari empat bank

Bank Mandiri didirikan pada 2 Oktober 1998 oleh pemerintah sebagai bagian dari program restrukturisasi perbankan.

Siapa sangka, bank buku empat milik BUMN ini ternyata merupakan hasil penggabungan dari empat bank yakni Bank Pembangunan Indonesia atau Bapindo, Bank Bumi Daya atau BBD, Bank Ekspor Impor Indonesia, dan Bank Dagang Negara.

Mengutip laporan keuangan perseroan tahun 2019 lalu, Bank Mandiri mencatatkan total aset Rp1.318,25 triliun.

Bank CIMB Niaga merger dengan Bank Lippo

Bank CIMB Niaga Tbk melakukan aksi merger dengan PT Bank Lippo pada 2008 lalu. Merger dilakukan Commerce International Merchant Bankers Berhad (CIMB) Group, dengan membeli 51 persen saham Bank Lippo yang dimiliki Santubong Ventures, anak usaha dari Khazanah.

Semula Bank CIMB Niaga bernama Bank Niaga. Pemerintah Republik Indonesia pernah menjadi pemegang saham mayoritas CIMB Niaga saat terjadinya krisis keuangan di akhir 1990-an.

Pada November 2002, Commerce Asset-Holding Berhad (CAHB), kini dikenal luas sebagai CIMB Group Holdings Berhad (CIMB Group Holdings). Mengakuisisi saham mayoritas Bank Niaga dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

Di bulan Agustus 2007, seluruh kepemilikan saham berpindah tangan ke CIMB Group sebagai bagian dari reorganisasi internal. Untuk mengkonsolidasi kegiatan seluruh anak perusahaan CIMB Group dengan platform universal banking.

Bank Permata dibentuk dari penggabungan 5 bank nasional

PT Bank Permata Tbk, salah satu bank nasional terbesar di Indonesia ini. Merupakan hasil merger dari lima perbankan nasional yakni PT Bank Bali Tbk, PT Bank Universal Tbk, PT Bank Prima Express, PT Bank Artamedia, dan PT Bank Patriot.

Bank ini kemudian diambil alih oleh Standard Chartered Bank dan PT Astra International Tbk. Yang merupakan perusahaan besar Indonesia dan memiliki pengalaman kuat di pasar domestik. Akuisisi ini terjadi pada 2004 dan saham utama gabungan keduanya telah meningkat menjadi 89,01 persen pada 2006.

Pada 12 Desember 2019 lalu, Bangkok Bank mengakuisisi saham Bank Permata milik PT Astra International Tbk (ASII) dan Standard Chartered Bank (SCB).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *