AS-China Rujuk, Kurs Dolar Australia Menguat Lagi ke Rp 9.800

AS-China Rujuk, Kurs Dolar Australia Menguat Lagi ke Rp 9.800

AS-China Rujuk, Kurs Dolar Australia Menguat Lagi ke Rp 9.800

AS-China Rujuk, Kurs Dolar Australia Menguat Lagi ke Rp 9.800 – Nilai tukar dolar Australia menguat melawan rupiah di perdagangan Rabu ,  melanjutkan penguatan sejak awal pekan ini.
Kesepakatan dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China yang masih berlaku memberikan sentimen positif ke dolar Australia.

Pada pukul 13:33 WIB, AU$ setara Rp 9.800,69, dolar Australia menguat 0,24% di pasar spot, mengambil data Refinitiv. Dalam 2 hari sebelumnya, dolar Australia menguat 1,5% dan 0,35%.

Kemarin, pasar sempat dibuat “syok” oleh perkkataan penasehat perdagangan Gedung Putih, Peter Navarro, terkait hubungan AS-China.

Navarro yang berbicara dalam acara “The Story” di Fox News menyampaikan Presiden AS Donald Trump telah memutuskan untuk mengakhiri kesepakatan dagang dengan China sebab intelijen menyakini virus corona berasal dari laboratorium di kota Wuhan.

“Di sini titik baliknya. Mereka datang pada 15 Januari untuk menandatangani kesepakatan dagang, saat itu mereka sudah tahu ada virus tersebut selama 2 bulan” ungkap Navarro menjelaskan keputusan tersebut.

“Saat itu, ratusan bahkan ribuan orang China datang ke negara ini sehingga virus menyebar, dan hanya beberapa menit setelahnya kita mulai tahu pandemi ini,” sambungy Navarro.

Navarro bahkan membandingkan China dengan pemerintahan Jepang pada 1941 ketika berbicara dengan pemerintahan Presiden Franklin D. Roosevelt, sebelum akhirnya menyerang Pearl Harbor.

“Saya pikir semua orang di sini dan di sekitar negara ini sudah paham jika China berbohong dan warga Amerika meninggal,” tegas Navarro.

Pernyataan Navaro itu bisa jadi membuat hubungan AS-China semakin kacau, dan babak baru perang dagang dimulai. Jika hal itu terjadi, perekonomian China berisiko merosot lagi dan tentunya berdampak buruk bagi Australia. Maklum saja, China merupakan mitra dagang utama Negeri Kanguru.

Tetapi, Navarro merevisi lagi perkataanya, yang membuat pelaku pasar lega.

Presiden AS, Donald Trump juga langsung menyampaikan kesepakatan dagang dengan China masih tetap melalui akun Twitternya.

“Komentar saya diterjemahkan jauh di luar konteks,” jelas Navaro menanggapi pernyataannya yang membuat sentimen pelaku pasar memburuk.

“Mereka tidak ada melakukan perubahan apapun pada kesepakatan dagang fase I, yang masih tetap seperti sebelumnya. Saya hanya mengatakan kurangnya kepercayaan yang kita miliki saat ini pada Partai Komunis China setelah mereka berbohong mengenai asal virus (corona) China dan menyebarkan pandemi ke seluruh dunia,” imbunya.

AS-China yang masih rujuk sebetulnya berdampak positif juga pada rupiah. Namun adanya risiko penyebaran Covid-19 gelombang kedua membuat pelaku pasar berhati-hati mengalirkan modalnya ke negara emerging market. Rupiah yang mengandalkan capital inflow untuk menguat menjadi kekurangan “bensin”. Alhasil, dolar Australia dan mampu terus menguat melawan rupiah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *